Yuk, Belajar Tentang Stunting! – Ketika mendengar istilah stunting, mungkin tidak semua orang akrab dan memahami istilah tersebut. Padahal menurut Badan Kesehatan Dunia Indonesia menduduki posisi ke-lima jumlah anak dengan kondisi stunting sedangkan di Asia Tenggara, Indonesia menempati posisi ke-tiga untuk jumlah stunting terbanyak pada tahun 2018. Meskipun jumlahnya turun dibandingan dengan tahun-tahun sebelumnya, masih ada 3 dari 10 balita di Indonesia yang mengalami stunting. Badan Kesehatan mencatat per 2018 sekitar 4 juta anak bawah dua tahun (baduta) Indonesia mengalami stunting. Untuk itu, perlu kiranya kita memahami tentang stunting. Simak ulasanya berikut!

Apa Itu Stunting?

Stunting adalah suatu masalah gizi kronis pada anak yang akan menimbulkan gangguan pertumbuhan sehingga menyebabkan panjang atau tinggi badan anak kurang jika dibandingankan dengan anak seusianya. Bukan hanya fisik, kecerdasannya juga terhambat. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun.

Pasalnya, stunting adalah kejadian yang tak bisa dikembalikan seperti semula jika sudah terjadi. Anak stunting biasanya dikenali dengan tubuhnya yang pendek, namun bukan berarti semua anak bertubuh pendek mengalami stunting. Anak yang masuk ke dalam kategori stunting ketika panjang atau tinggi badannya menunjukkan angka di bawah -2 standar deviasi (SD). Penilaian status gizi yang satu ini biasanya menggunakan grafik pertumbuhan anak (GPA) dari WHO.

Jadi intinya, anak dengan tubuh pendek belum tentu serta merta mengalami stunting. Stunting hanya bisa terjadi ketika kurangnya asupan nutrisi harian anak, sehingga memengaruhi perkembangan tinggi badannya.

Apa Saja Penyebab Stunting Pada Anak? Yuk Pelajari Tentang Stunting

Penyebab stunting pada anak bisa disebabkan oleh banyak faktor, mengingat stunting adalah hasil dari berbagai faktor yang terjadi di masa lalu, misalnya asupan gizi buruk, berkali-kali terserang penyakit infeksi, serta berat badan lahir rendah (BBLR). Berikut ini rangkuman penyebab stunting pada anak :

  • Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) pada bayi ketika lahir

Berat janin mencerminkan hasil perkembangan dalam kandungan pada kecukupan nutrisinya saat dilahirkan. Bayi dikatakan memiliki berat lahir rendah atau BBLR apabila memiliki berat badan kurang dari 2500 gr (2,5 kg) atau di bawah 1,5 kg. Dengan kondisi bayi yang memiliki berat lahir rendah, kemungkinan akan mengalami masalah kesehatan dan memiliki kecenderungan untuk menjadi stunting. Salah satu faktor yang memengaruhi berat badan rendah pada bayi ialah status gizi buruk pada sang ibu sebelum maupun selama kehamilan. Selain itu, postur tubuh ibu hamil yang pendek di bawah rata-rata (maternal stunting) juga bisa membuat pertumbuhan janin di dalam kandungan jadi terhambat dan terus berlanjut sampai kelahiran.

  • Anak Terkontaminasi Bakteri Disebabkan Karena Lingkungan yang Kurang Bersih

Anak-anak yang berada dilingkungan yang kurang bersih dapat mengaruhi infeksi usus, hal inilah yang mempengaruhi gizi mereka. Lebih parahnya lagi, anak dapat mengalami penyakit berulang seperti diare dan infeksi cacing usus (helminthiasis) akibat paparan lingkungan kotor dimana anak tersebut tinggal. Hal tersebut dapat dikaitkan dengan stunting. Pasalnya, kondisi ini berpengaruh besar pada penurunan kemampuan sistem pencernaan dan kekebalan sebagai penangkal organisme penyebab penyakit. Akibatnya, nutrisi sang anak tidak diserap dengan sempurna.

  • Janin Kekurangan Asupan Makanan Bernutrisi di Masa Kehamilan


Saat bayi di dalam kandungan, ia harus tercukupi kebutuhan gizinya sampai ia dilahirkan dan tumbuh besar. Jika ibu hamil kurang mengonsumsi makanan bernutrisi seperti folat, protein, kalsium, zat besi, dan omega-3 maka bisa melahirkan anak dengn kondisi kurang gizi. Pasalnya, stunting adalah kejadian yang tak dapat dikembalikan seperti semula jika sudah terjadi gangguan pertumbuhan pada sang anak karena kekurangan gizi sejak ia di dalam kandungan. WHO sebagai Badan Kesehatan Dunia, menyatakan bahwa sekitar 20 persen kejadian stunting sudah terjadi saat bayi masih berada di dalam kandungan. Hal ini disebabkan oleh asupan ibu selama hami kurang bergizi dan berkualitas, sehingga nutrisi yang diterima janin cenderung sedikit. Akhirnya, pertumbuhan di dalam kandungan mulai terhambat dan terus berlanjut setelah kelahiran.

  • Melewatkan Imunisasi

tentang stunting wadidaw

Manfaat imunisasi adalah untuk menstimulasi sistem imun dalam membentuk antibodi yang dapat mengurangi anak dari resiko infeksi. Imunisasi mempunyai peranan yang sangat penting terhadap kejadian stunting. Apabila dari kecil anak melewatkan jadwal imunisasi, maka ketika mereka terkena penyakit akan mengalami perubahan seperti tidak nafsu makan. Hal tersebut dapat menyebabkan anak kekurangan gizi sehingga kemungkinan besar akan menghambat pertumbuhan dan kecerdasannya dan dapat mengakibatkan stunting.

  •   Bayi tidak Mendapatkan ASI Eksklusif

tentang stunting wadidaw

Infeksi gastrointestinal dapat menyebabkan malnutrisi yang parah. Malnutrisi adalah kondisi di mana tubuh tidak menerima asupan gizi yang cukup.  Infeksi ini dapat terjadi jika bayi tidak diberikan ASI ekslusif sejak ia dilahirkan atau selama 6 bulan pertama. Seperti yang diketahui, ASI merupakan asupan nutrisi dan sumber protein berkualitas baik yang dapat memenuhi ¾ kebutuhan protein pada bayi usia 6–12 bulan. Sementara jika bayi tidak mendapatkan ASI akan kekurangan gizi maupun sistem kekebalan. Karena kurangnya asupan gizi dan sistem kekebalan, bayi dapat mengalami stunting.

Baca Juga :   Duduk Terlalu Lama Saat Bekerja Bahaya Loh Bagi Kesehatan

Bagaimana Cara Mencegah Stunting?

Stunting dapat dicegah sejak anak di dalam Rahim ibunya. Berikut ini adalah bebarapa cara tentang stunting yang dapat dilakukan agar mengurangi resiko anak terkena stunting.

 

  • Saat Hamil, Cukupi kebutuhan zat besi, yodium, dan asam folat

Ketiga nutrisi tersebut penting untuk dipenuhi ibu hamil untuk mencegah stunting. Kekurangan zat besi dan asam folat dapat meningkatkan risiko anemia pada ibu hamil. Anak yang lahir dari ibu hamil dengan anemia lebih berisiko mengalami stunting. Ibu hamil bisa mendapatkan ketiga nutrisi ini dengan mengonsumsi telur, kentang, brokoli, makanan laut, pepaya, dan alpukat. Selain itu, ibu hamil juga bisa mengonsumsi vitamin prenatal sesuai anjuran dokter.

  • Hindari paparan asap rokok

Paparan asap rokok dapat meningkatkan bayi lahir premature atau memiliki berat badan kurang. Hindari paparan asap rokok baik di dalam rumah ataupun di luar rumah. Jika ada anggota keluarga yang merokok di rumah, sebaiknya memintanya untuk tidak merokok di dalam rumah dan nika berada di luar rumah, paparan asap rokok dapat dihindari dengan menggunakan masker. Hal tersebut dilakukan agar janin bisa tumbuh sehat dan terhindar dari stunting.

  • Rutin melakukan pemeriksaan kandungan

Melakukan pemeriksaan kandungan secara rutin aqdalah hal yang tidak kalah penting dalam mencegah stunting. Yang mana, pemeriksaan secara rutin dapat memastikan nutrisi yang dikonsumsi ibu hamil cukup dan mendeteksi jika ada komplikasi pada kehamilan. Semakin cepat diketahui, komplikasi kehamilan dapat semakin cepat diatasi.

  • Berikan ASI eksklusif selama 6 bulan

Setelah bayi lahir, pencegahan stunting dapat dilakukan dengan memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan, yang bertujuan untuk memaksimalkan tumbuh kembangya. Setelah berusia lebih dari 6 bulan, bayi dapat diberikan tambahan nutrisi berupa makanan pendamping ASI (MPASI).

  • Perhatiikan Kebersihan Lingkungan

Lingkungan yang bersih dapat mengurangi resiko anak terkena infeksi usus, yang nantinya dapat mempengaruhi gizi mereka. Sehingga penyakit berulang seperti, diare, infeksi cacing usus, dan lainnya tidak akan terjadi. Untuk itu, anak tidak akan kekurangan nutrisi dan terhindar dari stunting.

  • Berikan Anak Imunisasi

Sebagai upaya perlindungan terhadap berbagai penyakit infeksi, terutama imunisasi dasar sesuai anjuran Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Baca Juga :   Belajar Bahasa Pemrograman Terbaik di Tahun 2020

Ciri-Ciri Anak Stunting 

  1. Proporsi tubuh sepertinya normal tapi anak terlihat kecil untuk usianya
  2. Berat badan rendah untuk usianya
  3. Terlihat chubby (proporsi massa lemak dan tinggi badan tidak tepat)
  4. Pertumbuhan tulang tertunda
  5. Penundaan kemampuan kognitif dan belajar.

Sekian ulasan tentang stunting. Semoga bermnfaat!